Thursday, 18 October 2018
travel

Istana Maimun, Objek Wisata Kebanggaan Orang Medan

Hai guys, kali ini kita akan membahas tentang istana yang ada di kota Medan. Buat orang Medan tentunya udah tau dong istana apa yang dimaksud. Secara ya tempat tersebut merupakan tempat kebanggaan orang-orang Medan, apalagi kalau bukan Istana Maimun. Nah buat kamu yang belum tau jelasnya sejarah dari Istana Maimun, silahkan simak di sini.

Sejarah Istana Maimun

Setiap daerah pasti memiliki salah satu ikon untuk melambangkan kota tersebut begitu pun juga dengan kota Medan. Salah satu tempat yang dibangga-banggakan masyarakat kota Medan adalah Istana Maimun. Tempat tersebut merupakan peninggalan Kesultanan Deli yang terletak di Jalan Brigadir Jenderal Katamso, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Medan Maimun.

Nah yang harus kamu tahu adalah peninggalan ini merupakan Istana terindah yang ada di Indonesia. Warga Medan patut bangga akan hal ini. Istana Maimun didirikan 26 Agustus 1888 oleh Sultan Maimun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan baru diresmikan pada 18 Mei 1891. Istana Maimun memiliki luas 2.772 m2 dan 30 ruangan. Arsitektur bangunan Istana Maimun berwarna kuning yang merupakan warna khas Melayu. Dan berbagai macam budaya dituangkan di Istana Maimun ini Dengan perpaduan Melayu nuansa Islam, Spanyol, India dan Itali.

Bentuk jendela serta pintunya yang tinggi dan lebar merupakan pengaruh dari arsitektur Belanda, sementara beberapa pintu lainnya memperlihatkan pengaruh arsitektur Spanyol. Adanya lengkungan pada atap dengan tinggi sekitar 5-8 meter menunjukkan pengaruh Islam. Lengkungan ini mirip dengan perahu terbalik yang terkenal dengan sebutan pilar lengkungan persia yang juga populer di Turki, Timur Tengah serta India. Dengan keunikan ini menjadikan Istana Maimun kebanggaan bagi masyarakat Indonesia khusus bagi Kota Medan.

Istana Maimun terdiri dari 2 lantai dan memiliki 3 bagian yaitu bangunan induk, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan istana ini menghadap ke utara dan pada sisi depan terdapat bangunan Masjid Al-Mashun atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Raya Medan. Namun sayangnya tempat wisata ini tidak lepas dari kawasan pedagang kaki lima.

Pusat Kerajaan Sultan Deli pada awalnya berpusat di Labuhan Deli. Pada waktu itu, Deli memiliki hasil perkebunan tembakau yang diakui oleh dunia. Tembakau Deli di ekspor hingga ke Eropa, oleh karena ekspor inilah Kesultanan Deli mengalami kemajuan pesat. Puncak kejayaan ekonomi Kesultanan Deli membawa Sultan Ma’moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah memindahkan ibukota kerajaan ke Medan.

Bangunan Induk atau Balairung memiliki luas 412 meter persegi, di sinilah singgasana Kesultanan Deli berada. Kamu dapat mengabadikan foto bersama keluarga atau teman dengan latar singgasana tersebut saat berkunjung ke Istana Maimun Medan. Tahta singgasana didominasi warna kuning dan secara keseluruhan bangunan Istana ini memang berwarna kuning. Karena warna kuning ini dianggap sebagai warna kebesaran oleh suku Melayu.

Di atas singgasana tersebut terdapatlah lampu kristal yang bernuansa Eropa yang menerangi singgasana. Singgasana ini digunakan sampai saat ini pada acara-acara khusus, misalnya penobatan sulatan dan saat Sultan menerima sembah sujud dari para anggota keluarga di perayaan hari besar islam. Rasa takjub terhadap kemegahan objek wisata Medan yang satu ini tidak hanya berhenti sampai di situ. Kamu juga dapat menyaksikan hiasan pada interior Istana yang penuh warna dan mendetail yang menyuguhkan sebuah tatanan yang rapi dan indah.

Legenda Meriam Puntung

Di dalam kawasan tersebut terdapat legenda Meriam Puntung (meriam buntung) yang konon adalah jelmaan dari adik seorang puteri berparas cantik jelita. Puteri ini memiliki dua orang saudara laki-laki, yaitu Mambang Yasid dan Mambang Khayali. Dengan mengunjungi objek wisata Istana Maimun di Medan akan membawa kamu menuju kenangan kejayaan Kesultanan Deli di masa lampau.

Untuk melihatnya, meriam ini bisa kamu jumpai di sebelah kanan Istana Maimun tepatnya berada di dalam sebuah bangunan kecil khas batak sebagai tempat untuk menyimpannya. Menurut legenda atau ceritanya, meriam ini adalah jelmaan adik dari Puteri Hijau yang cantik jelita. Kamu bisa membaca kisah legenda meriam puntung ini dalam sebuah prasasti di dekat pintu masuk.

Suatu ketika Puteri Hijau mendapatkan pinangan dari Sultan Aceh, namun kemudian ditolaknya. Mendapatkan penolakan itu, Sultan Aceh memutuskan untuk menyerang Kerajaan Haru. Lalu Sultan Aceh mengirimkan Panglima Gocah Pahlawan untuk menyerang Kerajaan Haru. Tapi karena bentengnya sangat kokoh, pasukan Aceh gagal menembusnya.

Menyadari jumlah pasukannya makin menyusut setelah banyak yang terbunuh, panglima-panglima perang Aceh memakai siasat baru. Mereka menyuruh prajuritnya menembakkan ribuan uang emas ke arah prajurit benteng yang bertahan di balik pintu gerbang. Suasana menjadi tidak terkendali karena para penjaga benteng itu berebutan uang emas dan meninggalkan posnya. Ketika mereka tengah sibuk memunguti uang emas, tentara Aceh menerobos masuk dan dengan mudah menguasai benteng.

Pertahanan terakhir yang dimiliki orang dalam adalah salah seorang saudara Puteri Hijau, yaitu adiknya Mambang Khayali dan demi mempertahankan Istana, ia menjelma menjadi meriam dan menembaki pasukan Kerajaan Aceh. Karena ditembakkan terus-menerus, meriam ini menjadi panas, meledak, terlontar dan terputus dua.

Pecahannya terpental ke dua tempat yang berbeda. Salah satu ujungnya terpental ke Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Kabupaten Tanah Karo sekarang. Sementara itu, ujung yang lainnya kini berada di bangunan yang berada di halaman Istana Maimun. Namun keduanya hingga sekarang masih dapat ditemui di kedua tempat itu dan menjadi benda yang dikeramatkan oleh penduduk setempat.

Sampai saat ini, di atas meriam tersebut sering diberi bunga sedangkan di dekat ujung meriam yang terpecah diletakkan satu baskom. Sementara sang Puteri Hijau dibawa oleh kakaknya yang berubah menjadi ular besar ke atas punggungnya dan menyelamatkan diri melalui sebuah terusan memasuki Sungai Deli dan langsung ke Selat Malaka. Hingga sekarang kedua kakak beradik ini dipercaya menghuni sebuah negeri dasar laut di sekitar Pulau Berhala.

Demikianlah cerita kita kali ini yang membahas sejarah Istana Maimun yang menjadi kebanggaan warga Medan dan menjadi Istana terindah di Indonesia. Untuk itu mari kita sama-sama melestarikan peninggalan yang udah buat Indonesia harum namanya tersebut ya.