Thursday, 18 October 2018
relationship

Apa Yang Akan Terjadi Pada Anak Broken Home? Berikut Penjelasannya

Broken home merupakan kata yang mengacu pada rumah tangga yang tidak harmonis. Hal ini dapat mengakibatkan gangguan mental pada anak yang berasal dari broken home tersebut. Biasanya mereka akan menjadi brutal dan susah diatur, namun apakah memang benar begitu? Nah di sini kita akan membahas masalah yang terjadi pada anak yang broken home, yuk silahkan disimak.

Anak Yang Mengalami Broken Home

Biasanya anak-anak yang terlahir dari keluarga broken home akan berdampak buruk. Perceraian orangtua sering kali membuat anak menjadi korbannya, sehingga anak pun kehilangan cinta dan kasih sayang. Hal-hal seperti itu memunculkan efek terhadap mental anak hingga dewasa dan mereka akan selalu mengingatnya.

Efek dari keluarga yang tidak harmonis pada perkembangan anak tergantung pada berbagai faktor, termasuk usia seorang anak ketika orangtua bercerai, kepribadian anak dan hubungan di dalam keluarga. Meskipun balita dan anak-anak yang masih sangat kecil mungkin tidak akan mengalami efek perkembangan yang terlalu negatif, anak-anak yang orangtuanya bercerai saat mereka sudah memasuki usia sekolah atau bahkan remaja mungkin mengalami beberapa masalah dalam fungsi sosial, emosional dan pendidikan mereka. Berikut penjelasannya:

Masalah dinamika keluarga

Menurut hakikatnya, perceraian tidak hanya mengubah struktur keluarga namun juga dinamikanya. Bahkan jika kamu dan pasangan kamu memiliki perceraian secara damai, hal itu hanya menciptakan dua rumah tangga baru yang secara permanen mengubah interaksi dan peran keluarga. Berdasarkan pengaturan kehidupan yang baru, anak-anak kamu mungkin perlu melakukan beberapa tugas rumah tangga dan mengambil peran tambahan dalam fungsi dasar rumah tangga baru.

Selain itu, pada beberapa keluarga yang bercerai anak sulung akan mengambil peran orangtua bagi adik-adiknya, karena jadwal kerja orangtua mereka atau ketidakmampuan orangtua untuk selalu hadir di sisi mereka seperti sebelum terjadinya perceraian.

Masalah sosial

Perceraian mempengaruhi hubungan sosial anak untuk beberapa hal. Akibat perceraian, beberapa anak melepaskan kegelisahan mereka dengan bertindak agresif dan terlibat dalam perilaku bullying (penindasan) yang keduanya merupakan hal negatif dan dapat mempengaruhi hubungan teman sebaya mereka.

Anak-anak lain mungkin mengalami kecemasan yang dapat membuat mereka sulit untuk mencari interaksi sosial yang positif dan terlibat dalam kegiatan perkembangan yang bermanfaat seperti olahraga. Remaja broken home mungkin mengembangkan sikap sinis dan ketidakpercayaan terhadap hubungan, baik terhadap orangtua dan pasangan potensial mereka.

Masalah emosional

Setelah bercerai, anak-anak dari pra-sekolah hingga akhir masa remaja dapat mengalami defisit dalam perkembangan emosional. Anak-anak dari segala usia mungkin merasakan kesedihan dan depresi yang merupakan keadaan emosional jangka panjang (dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah perceraian orangtua), jelas psikolog Lori Rappaport.

Selain itu, beberapa anak yang lebih tua mungkin menunjukkan reaksi emosional yang sangat sedikit terhadap perpisahan orangtua mereka. Rappaport menjelaskan bahwa hal ini bukanlah tahapan perkembangan yang baik untuk anak. Beberapa anak yang menunjukkan sedikit respon emosional sebenarnya memendam perasaan negatif mereka. Penekanan emosional ini justru dapat membuat orangtua, guru dan terapis kesulitan untuk membantu anak memproses perasaannya dengan cara yang tepat.

Kemudian sebuah studi oleh Larson & Larson 1990, menunjukkan bahwa tingkat bunuh diri pada anak lebih tinggi untuk anak broken home dibandingkan dengan anak di keluarga normal. Tidak ada korelasi yang ditemukan antara kematian orangtua dan bunuh diri dari seorang anak. Namun bunuh diri tampaknya dipicu oleh penolakan anak oleh orangtua.

Masalah pendidikan

Perkembangan akademik yang melambat adalah masalah lain pada anak broken home yang umum dipengaruhi oleh perceraian orangtua. Stres secara emosional saja sudah dapat menghambat kemajuan akademis anak kamu, tetapi perubahan gaya hidup dan ketidakstabilan keluarga yang hancur dapat berkontribusi pada hasil pendidikan yang buruk. Kemajuan akademik yang buruk ini dapat berasal dari sejumlah faktor, termasuk ketidakstabilan di lingkungan rumah, sumber daya keuangan yang tidak memadai dan rutinitas yang tidak konsisten.

Menurut sebuah studi oleh University of Western Australia bahwa perempuan yang tidak menikah, janda dan yang telah bercerai akan lebih mungkin untuk memiliki anak dengan cacat intelektual moderat dibandingkan dengan mereka yang memiliki orangtua lengkap.

Dengan kondisi mental yang masih sangat labil, seorang anak bisa jadi akan membenci ayah, ibu atau bahkan kedua orang tuanya saat terjadi broken home. Ia belum bisa memahami dan menerima apa yang sebenarnya terjadi, sehingga ia akan menganggap semua yang terjadi adalah kesalahan salah satu atau kedua orang tuanya.

Kesalahan Orang Tua Pada Anak Setelah Bercerai

Kedua belah pihak orangtua sering kali begitu disibukkan oleh duka dan rasa kehilangan sehingga mereka bertindak atau bereaksi dengan cara yang negatif di sekitar anak-anak yang nantinya akan memiliki konsekuensi buruk bagi mereka dan begitu pula dengan hubungan antar orangtua dan anak, pasti akan sangat bertentangan. Ada sejumlah kesalahan yang bisa dilakukan oleh orangtua bercerai. Berikut ini adalah kesalahan paling umum ditemui pada pasangan yang bercerai terhadap anaknya:

Meminta anak untuk berpihak

Daripada berkomunikasi satu sama lain dan membuat keputusan bersama demi kesejahteraan anak, pasangan bercerai terkadang menempatkan anak mereka di tengah situasi sulit ini. Satu pihak mungkin akan membicarakan sisi buruk dari pihak lainnya, bertengkar di hadapan anak, menyalahkan satu pihak atas perceraian tersebut atau menggunakan anak-anak sebagai penengah perselisihan. Bahkan anak-anak yang paling bandel sekalipun tetap menyayangi kedua orangtuanya dan akan berada di posisi sulit untuk memihak salah satunya.

Menjadikan anak sulung sebagai pengganti orangtua yang cerai

Dengan salah satu pihak dari orangtua yang tidak lagi tinggal serumah, tentu ada beberapa pekerjaan rumah yang biasa mereka lakukan kini menjadi terbengkalai misalnya membuatkan anak-anak bekal atau membantu mengerjakan PR. Sering sekali orangtua memindahtangankan kewajiban orang dewasa tersebut kepada anak tertuanya dengan anggapan bahwa mereka juga sudah sama dewasa. Padahal belum tentu mereka sudah siap untuk menjalankan perannya sebagai pengganti orang tua untuk adik-adiknya.

Rebutan perhatian anak

Di masa-masa perceraian, emosi bisa menjulang tinggi dan membuat kedua pihak orangtua sulit bekerja sama untuk mencurahkan segala usaha terbaik bagi anak mereka. Akan ada masa-masa di mana orangtua yang paling bijak sekalipun akan berusaha untuk menggunakan anak sebagai alat balas dendam terhadap mantan, dengan menunjukkan bahwa ia bisa menjadi orangtua “gaul” yang membolehkan anak tidur larut malam, makan banyak camilan atau menghujaninya dengan berbagai mainan terbaru. Sedangkan pihak yang lain akan terlihat sebagai orangtua konvensional dan disiplinaris.

Mengatasi Broken Home Pada Anak

Jika memang broken home telah menimpa keluarga kita dan melibatkan anak-anak, maka ada baiknya jika kita segera melakukan pendekatan kepada mereka untuk mengurangi dampak lebih lanjut yang tidak diinginkan. Hal-hal yang bisa dilakukan diantaranya adalah:

  • Segera menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab broken home
  • Memperbaiki serta menjaga komunikasi terhadap anak agar tetap lancar dan kondusif
  • Berusaha membuat mereka nyaman sehingga anak bisa lebih terbuka mengenai segala sesuatu yang sedang ia rasakan atau alami
  • Meminta maaf kepada mereka dan menjelaskan bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi
  • Menjelaskan bahwa keadaan tersebut bukan salahnya sehingga ia tidak merasa serba salah
  • Memberi pengertian bahwa ia akan tetap baik-baik saja meski orang tuanya tidak lagi bersama
  • Tidak membatasi pertemuan anak dengan ayah atau ibunya
  • Mulai mengarahkannya kepada perilaku-perilaku positif secara perlahan
  • Memberikan pendidikan agama sebagai dasar perilaku normatif
  • Mengisi kegiatan luang mereka dengan hal-hal baru yang produktif dan menyenangkan agar dapat tersalurkan bakatnya
  • Memilihkan lingkungan sekolah maupun keseharian yang baik bagi anak serta mengawasi pergaulan mereka dengan sebaik-baiknya
  • Meminta pertolongan psikolog anak jika dianggap perlu

Itulah kira-kira penjelasan tentang masalah rumah tangga di atas tersebut, sebelum benar-benar mengambil keputusan untuk berpisah, ada baiknya perhatikan dulu perkembangan anak yang nantinya akan menerima dampak buruk akibat broken home. Semoga dengan ada artikel ini, para orang tua lebih memahami apa yang harus dilakukan. Sampai sini dulu ya…