Thursday, 19 July 2018
health

Ternyata Antibiotik Tak Mampu Mengobati Semua Penyakit? Yuk Simak Penjelasannya

Ketika seseorang sakit dan pergi ke dokter, maka dokter akan memberikan resep obat beserta antibiotik. Dalam hal ini, apakah kamu sudah mengetahui sebelumnya apa itu antibiotik? Ataukah kamu hanya tahu bahwa antibiotik itu obat yang bisa melawan bakteri? Dan tahukah kamu kalau ternyata tak semua antibiotik itu bisa menyembuhkan penyakit? Dalam artikel ini kita akan membahas masalah antibiotik, yuk ikuti terus penjelasannya.

Pengertian Antibiotik

Antibiotik pada dasarnya adalah obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh beberapa bakteri dan parasit. Antibiotik bekerja untuk membunuh bakteri atau membuat bakteri sulit untuk tumbuh dan berkembang biak. Meskipun antibiotik dapat digunakan pada bakteri, namun antibiotik tidak dapat digunakan pada virus.

Antibiotik yang dipergunakan untuk mengobati infeksi virus malah bisa membahayakan tubuh. Hal ini karena setiap kali dosis antibiotik diambil virus tidak terpengaruh, malah sebaliknya akan terjadi peningkatan kekebalan bakteri terhadap antibiotik.

Virus yang berada dalam tubuh manusia, jika terkena obat antibiotik bisa menjadi kuat dan lebih merajalela. Untuk itu, bagi kalian yang memiliki penyakit yang disebabkan oleh virus, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter ahli.

Antibiotik berasal dari dua kata Yunani, yaitu ‘anti’ yang berarti ‘melawan’ dan ‘bios’ yang berarti ‘hidup’.Obat ini telah digunakan untuk melawan infeksi berbagai bakteri pada tumbuhan, hewan dan manusia sejak tahun 1930-an. Antibiotik ini dapat diberikan dalam bentuk tablet, kapsul atau cairan yang dikonsumsi secara oral atau diteteskan pada bagian tertentu tubuh, seperti tetes mata dan tetes telinga.

Penyakit akibat virus tak bisa diobati oleh antibiotik, seperti:

  • Hampir seluruh sakit tenggorokan
  • Hampir seluruh kondisi batuk dan bronkitis
  • Beberapa infeksi sinus
  • Beberapa infeksi telinga

Kebanyakan infeksi disebabkan oleh virus, dimana dalam hal ini antibiotik tidak berguna. Antibiotik biasanya hanya diresepkan untuk mengatasi infeksi yang lebih serius yang disebabkan oleh bakteri dan parasit. Sistem kekebalan alami tubuh biasanya sudah mampu mengatasi infeksi-infeksi ringan yang disebabkan bakteri. Jadi, jangan heran jika dokter tidak meresepkan antibiotik untuk kondisi yang disebabkan oleh virus atau infeksi non-bakteri, atau bahkan infeksi ringan yang disebabkan oleh bakteri.

Jenis-Jenis Antibiotik

Saat ini ada ratusan jenis obat antibiotik, obat ini sangat banyak macamnya yang terkadang dapat membingungkan, sehingga penting sekali mengetahui golongan antibiotik serta fungsinya masing-masing. Berikut ini merupakan beberapa jenis golongan dari antibiotik beserta penjelasannya:

  • Penisilin (Penicillins)

Jenis dan golongan obat antibiotik yang pertama dan sering kita dengar adalah Penisilin. Penisilin merupakan obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi pada paru-paru, infeksi pada bagian dada dan kantong kemih.
antibiotik ini mampu merusak dinding sel bakteri saat bakteri sedang dalam proses reproduksi.

Penisilin merupakan bagian dari bakterisida yang memiliki banyak macam, misalnya penisilin G, penisilin V, ampisilin, tikarsilin, kloksasilin, oksasilin, amoksisilin dan nafsilin. Antibiotik semacam ini berfugsi untuk mengobati infeksi pada bagian mata, gigi, saluran pernafasan, telinga, kulit dan lain sebagainya.

Mayoritas orang akan mengalami alergi terhadap penisilin karena terjadi hipersensitivitas terhadap obat antibiotik. Efek buruk jika kamu terlalu sering menggunakan obat ini, yakni bakteri menjadi kebal dan tidak bisa diatasi lagi. Jika sudah terjadi pengebalan bakteri, kamu perlu menambah dosis yang lebih tinggi lagi untuk melawan bakteri ini. Seringkali penisilin diberikan dalam kombinasi dengan berbagai jenis antibiotik lainnya.

  • Aminoglikosida

Jenis antibiotik Aminoglikosida bekerja dengan cara menghambat pembentukan protein pada bakteri. Biasanya, para dokter menggunakan anti biotik ini pada pasien yang menderita penyakit tifus dan pneumonia. Akan tetapi, antibiotik ini tidak bisa diberikan secara sembarangan.

Aminoglikosida dapat menyebabkan kerusakan baik pendengaran maupun ginjal. Karena itu, Aminoglikosida sekarang digunakan hanya untuk mengobati penyakit yang sangat serius seperti meningitis. Aminoglikosida memecah dengan cepat di dalam sistem pencernaan sehingga mereka harus diberikan melalui suntikan atau tetes.

Kamu perlu dokter yang benar-benar ahli untuk menyuntikkan pada tubuh kamu. Antibiotik ini diberikan dengan cara mengkombinasikan penisilin dan sefalosporin. Jika antibiotik ini diberikan secara terus menerus, kemungkinan bakteri akan semakin kebal dan membutuhkan dosis lebih tinggi untuk melawannya.

  • Sefalosporin (Cephalosporins)

Sefalosporin ini sama seperti penisilin, bekerja dengan mengganggu pembentukan dinding sel bakteri selama reproduksi. Namun antibiotik ini mampu mengobati berbagai infeksi bakteri yang tidak dapat diobati dengan penisilin seperti meningitis, gonorrhea, dll.

Infeksi yang tergolong serius, juga bisa diobati dengan anti biotik ini. Contoh penyakit yang bisa diobati menggunakan anti biotik sefalosporin seperti infeksi darah (septicemia), pneumonia, infeksi lapisan luar otak, dan infeksi sumsum tulang belakang. Penyakit ini tergolong penyakit serius dan membutuhkan penanganan dokter ahli untuk mengatasinya.

Antibiotik sefalosporin ini terdiri dari dua macam obat yaitu cefixime dan cefalaxim. Jika kamu mengonsumsi obat antibiotik ini, akan ada beberapa efek samping yang terjadi seperti diare, ruam, perut kejang dan demam. Dalam kasus di mana orang sensitif terhadap penisilin, maka sefalosporin bisa diberikan sebagai alternatif.

Namun dalam banyak kasus juga, ketika seseorang alergi terhadap penisilin maka kemungkinan besar ia akan alergi terhadap sefalosporin juga. Untuk memastikannya, kamu perlu berkonsultasi secara khusus dengan dokter yang ahli dalam bidangnya.

  • Tetrasiklin

Tetrasiklin adalah antibiotik spektrum luas yang digunakan untuk mengobati berbagai infeksi seperti infeksi telinga tengah, saluran pernafasan, saluran kemih, dll. Selain itu, antibiotik ini bisa digunakan untuk merawat jerawat yang sudah parah. Biasanya dikenal dengan sebutan rosacea (bintik-bintik pada kulit wajah). Banyak dokter yang menganggap antibakteri ini bisa menjadi racun, oleh sebab itu hanya digunakan pada bagian kulit saja.

Jenis dan golongan obat antibiotik selanjutnya adalah Tetrasiklin. Antibiotik ini merupakan jenis spectrum luas (bisa digunakan berbagai penyakit akibat inveksi bakteri). Misalnya, infeksi pada telinga bagian tengah, saluran kantung kemih, pernafasan dan lain sebagainya. Pasien dengan masalah hati harus hati-hati saat mengonsumsi tetrasiklin karena dapat memperburuk masalah. Penggunaan tetraksilin memiliki efek samping kerusakan ginjal dan gangguan sistem saraf otak manusia.

  • Sulfonamida (Sulfonamides)

Obat ini efektif mengobati infeksi ginjal, namun sayangnya memiliki efek berbahaya pada ginjal. Untuk mencegah pembentukan kristal obat, pasien harus minum sejumlah besar air. Salah satu obat sulfa yang paling sering digunakan adalah gantrisin.

Pasien yang mengonsumsi antibiotik ini dituntut untuk banyak minum air putih agar tidak timbul Kristal obat. Agar terhindar dari efek samping kristaluria atau batu di dalam urine meski belum kelihatan secara kasat mata, maka kamu harus mengnsumsi air putih minimal 1,5L/hari.

  • Makrolida

Antibiotik Makrolida melawan bakteri dengan cara melawan pembentukan protein bakteri. Pasien yang memiliki kealergian antibiotic penisilin tinggi, kami rekomendasikan untuk memilih Makrolida. Selain itu, anti biotik ini bisa mengurangi tingkat kealergian pada penisilin. Antibiotik ini memiliki spectrum lebih luas dibandingkan penisilin. Para dokter ahli biasanya menggunakan antibiotik ini untuk mengobati pasien yang menderita infeksi pada saluran pernafasan,infeksi dada, infeksi saluran lambung.

Salah satu contoh dari antibiotik Makrolida yaitu eritromisin dan spiramisin. Efek samping yang akan muncul yaitu rasa mual yang cukup tinggi, diare, pencernaan tidak lancar. Larangan bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui untuk menggunakan anti biotik ini.

  • Makrolida (Macrolides)

Makrolida mencegah biosintesis protein bakteri dan biasanya diberikan untuk mengobati pasien yang sangat sensitif terhadap penisilin. Makrolida memiliki spektrum lebih luas dibandingkan dengan penisilin dan digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran lambung, infeksi paru-paru dan dada.

Ketidaknyamanan pencernaan, mual, dan diare adalah beberapa efek samping dari makrolida. Selain itu, wanita hamil dan menyusui tidak boleh mengonsumsi makrolida.

  • Polipeptida

Antibiotik golongan polipeptida terdiri dari golongan A, B, C, D dan E. Antibiotik ini sangat aktif melawan bakteri gram negatif seperti psedudomonas dan kuman koliform lain. Toksisitas polimiksin bisa membatasi pemakaiannya dalam bentuk neurotoksisitas dan nefrotoksisitasnya.

Antibiotik ini bisa berperan lebih penting lagi ketika meningkatnya infeksi pseudomonas dan enterobakteri yang resisten terhadap obat lain. Efek samping yang akan muncul yakni kerusakan pada sistem ginjal dan terganggunya sistem saraf otak. Antibiotik ini secara aktif akan membasmi kuman atau bakteri dalam tubuh manusia.

  • Fluoroquinolones

Jenis antibiotik Fluroquinolones merupakan jenis yang belum lama muncul. Antibiotik ini adalah satu-satunya kelas antibiotik yang secara langsung menghentikan sintesis DNA bakteri. Karena dapat diserap dengan sangat baik oleh tubuh, fluoroquinolones dapat diberikan secara oral.

Obat ini tergolong jenis obat yang aman dikonsumsi namun tidak kami sarankan bagi wanita yang sedang hamil dan anak-anak. Karena fluoroquinolones diduga mempengaruhi pertumbuhan tulang. Efek samping yang akan muncul yakni mual, diare dan muntah-muntah.

Bagaimana bakteri bisa kebal terhadap antibiotik?

Pada saat seseorang sakit dan diberikan antibiotik, normalnya bakteri akan mati karena obat itu. Akan tetapi, sebagian bakteri akan bermutasi dan membentuk kekebalan terhadap antibiotik melalui beberapa cara. Ada bakteri yang dapat membuat resistensi antibiotik dengan membuatnya tidak berbahaya, ada juga yang dapat memompa antibiotik kembali ke luar sebelum membahayakan bakteri. Beberapa bakteri juga ada yang dapat mengubah struktur bagian luar, sehingga antibiotik tidak memiliki cara untuk menyentuh bakteri.

 

Setelah terkena antibiotik, terkadang salah satu bakteri dapat bertahan hidup karena menemukan cara untuk melawan antibiotik kemudian akan berkembang biak dan mengganti semua bakteri yang terbunuh. Maka, dengan adanya paparan antibiotik selektif, bakteri dapat bertahan dan kebal terhadap obat antibiotik akibat mutasi materi genetik.

Resistensi antibiotik adalah kondisi saat bakteri yang menyerang tubuh kamu menjadi kebal terhadap antibiotik. Orang-orang yang mengalami resistensi antibiotik akan sulit disembuhkan dari infeksi bakteri yang menyerangnya. Hal ini berisiko menyebabkan kematian. Data yang dilaporkan oleh Republika mencatat bahwa di seluruh dunia, diperkirakan ada 700 ribu kematian yang disebabkan oleh resistensi bakteri.

Beberapa cara bakteri untuk membentuk resistensi antara lain:

  • Memproduksi enzim yang dapat merusak antibiotik
  • Perubahan dinding/membran sel bakteri sehingga obat tidak bisa masuk
  • Perubahan jumlah reseptor obat di sel bakteri sehingga obat tidak bisa berikatan

Cara minum antibiotik yang benar

Ini penting untuk memahami bahwa meskipun antibiotik adalah obat yang sangat berguna. Antibiotik sebaiknya tidak digunakan sebagai pengobatan atas inisiatif pribadi karena bisa berdampak buruk pada kesehatan di masa depan. Berikut ini adalah cara benar untuk meminumnya:

  • Berbicara dengan dokter mengenai resistensi antibiotik
  • Bertanya apakah antibiotik bermanfaat untuk penyakit kamu
  • Bertanya apa saja yang bisa kamu lakukan untuk menyembuhkan penyakit lebih cepat
  • Tidak menggunakan antibiotik untuk penyakit akibat infeksi virus, seperti pilek atau flu
  • Jangan menyisakan beberapa antibiotik yang diresepkan untuk penyakit yang akan datang berikutnya
  • Mengonsumsi antibiotik persis seperti saran dokter
  • Tidak melewatkan dosis bahkan ketika kondisi sudah membaik, karena jika antibiotik dihentikan maka beberapa bakteri dapat bertahan hidup dan kembali menginfeksi
  • Jangan minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain, karena obat mungkin tidak cocok untuk penyakit kamu. Mengonsumsi obat yang salah dapat memberikan kesempatan bakteri berkembang biak
  • Jika dokter menyatakan bahwa penyakit kamu bukan karena infeksi bakteri, maka jangan paksa dokter untuk meresepkan antibiotik

Kalau sudah sembuh, apakah antibiotik tetap harus dihabiskan? Sakit memang merupakan hal yang tidak bisa ditolak oleh manusia. Meskipun kamu sudah berusaha keras untuk menjaga kesehatan, ada kalanya stamina tubuh pun akan tumbang juga. Salah satu jenis obat-obatan yang sering diresepkan oleh dokter adalah obat yang mengandung antibiotik.

Penggunaan antibiotik yang tepat akan efektif menghentikan infeksi dan mempercepat penyembuhan. Jadi, kamu harus benar-benar memerhatikan pesan dokter ketika kamu diberi obat antibiotik. Tergantung pada gejala dan tanda-tanda yang muncul, antibiotik biasanya diresepkan untuk penggunaan 5-14 hari. Lalu apa yang akan terjadi jika tidak menghabiskan antibiotik?

Jika kamu berhenti minum antibiotik sebelum waktu yang ditetapkan oleh dokter, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengungapkan bahwa kamu berisiko mengalami resistensi antibiotik. Hal ini bisa terjadi karena meskipun gejala penyakit yang kamu alami sudah berkurang atau hilang, mungkin saja bakteri yang bersarang dalam tubuh belum mati seluruhnya. Bakteri yang masih tersisa dalam tubuh dan akan mengalami mutasi.

Mutasi ini akan mengakibatkan bakteri tersebut kebal terhadap antibiotik tertentu (bisa obat antibiotik yang kamu konsumsi terakhir kali atau antibiotik yang sejenis). Maka ketika kamu diserang infeksi bakteri lagi di kemudian hari, obat antibiotik yang diresepkan dokter mungkin tak akan mempan lagi untuk mengobati penyakit kamu.

Menurut pendapat para dokter, antibiotik bisa bekerja secara maksimal di tubuh jika sudah dikonsumsi dalam dosis tertentu. Namun jika kamu menghentikan konsumsi antibiotik tersebut, maka efeknya tidak akan kamu dapat secara maksimal.

Selain dapat membuat bakteri bisa tumbuh kembali, konsumsi antibiotik yang kurang juga tidak mampu mendukung kekuatan sistem kekebalan tubuh. Sehingga sistem kekebalan tubuh kamu masih lemah dan penyakit dapat dengan mudah lahir kembali di tubuh kamu.

Memulihkan diri dari penyakit adalah hal yang penting dan itu adalah salah satu tugas dari obat antibiotik. Jadi, jika kamu tidak menghabiskannya, maka proses pemulihan akan berlangsung lebih lama.

Hal yang tidak boleh dilakukan ketika minum antibiotik

Ada beberapa hal yang wajib kamu ketahui dan tidak boleh dilakukan saat mengonsumsi antibiotik agar tidak terjadi kefatalan. Berikut ini adalah hal-hal yang tersebut:

  • Mengonsumsi alkohol

Minum minuman beralkohol dinilai kurang aman selama mengonsumsi antibiotik. Meski alkohol tidak mengurangi keefektivitasan antibiotik, tapi obat ini bisa mengurangi tenaga dan akan memperlambat pemulihan tubuh dari penyakit. Lagipula, minuman keras bisa menyebabkan perut mual, pusing dan kantuk.

  • Makanan tinggi serat

Makanan tinggi serat sangat sehat, tapi makanan tersebut bukan pilihan terbaik ketika kamu sedang mengonsumsi antibiotik. Makanan tersebut memperlambat tingkat penyerapan makanan dari perut. Ini bagus untuk diet, tapi tidak begitu bagus ketika memperlambat tingkat penyerapan obat. Makanan tinggi serat contohnya adalah biji-bijian dan kacang-kacangan.

  • Makan yogurt

Sebagian besar antibiotik membunuh bakteri yang membuat kamu sakit, tapi juga bisa membunuh bakteri baik di usus yang berguna untuk mencerna makanan. Jadi ketika mengonsumsi antibiotik, disarankan makan makanan yang mengandung probiotik yang bisa mencegah munculnya masalah baru.

  • Makanan dan minuman asam

Hindari makanan dan minuman seperti buah jeruk, cokelat, minuman ringan dan makanan yang berbahan dasar tomat seperti saus tomat asam. Makanan tersebut bisa mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyerap obat.

Nah begitulah kurang lebih penjelasan di atas tersebut, semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah pengetahuan kamu. Satu hal yang penting adalah tetap selalu menjaga kesehatan agar terhindar dari berbagai penyakit. Oke sampai sini dulu perjumpaan kita, see you…